Sekilas toples ini terbuat dari batok kelapa. Namun jangan salah toples-toples cantik ini sebenarnya terbuat dari batok buah maja. Ukurannya yang lebih besar membuat toples unik ini bisa memuat lebih banyak panganan dan kue kecil. Selain itu toples buah maja juga lebih ringan dibanding toples kaca.
Menurut Dadi Suryadi, perajin toples buah maja, Jumat (20/8), butuh keterampilan dan ketelitian untuk mengubah buah maja menjadi toples siap pakai. Buah maja dikeringkan selama dua pekan lalu dibersihkan isi dan kulitnya. Buah maja kering kemudian dipotong menjadi dua bagian dan dihaluskan permukaannya.
Setelah itu engsel untuk penutup dan kaki toples dipasang. Sentuhan akhir adalah pengecatan dan pelukisan motif. Motif toples dibuat bervariasi ada motif klasik hingga batik. Jadilah toples unik berkesan etnik.
Jika Anda tertarik toples buah maja ditawarkan dengan harga terjangkau mulai Rp 30 ribu. Perajin menjamin toples maja kreasinya tidak akan berjamur karena proses pelapisan dilakukan berulang-ulang.
Menjelang Idulfitri minat terhadap toples buah maja terus meningkat. Permintaan datang dari sejumlah daerah, seperti Bali dan Manado karena keunikan bahan dan desainnya.(IAN)
http://berita.liputan6.com/sosbud/201008/292352/Toples.Buah.Maja.Cantik.dan.Unik
Jumat, 20 Agustus 2010
Kerajinan Daun
Jangan membuang daun-daun yang berguguran disekitar lingkungan Anda, karena daun kering bisa mendatangkan rezeki. Daun-daun kering ternyata mahal harganya. Hal itu telah dibuktikan Nanik Heri, pemilik bengkel Kriya Daun di Surabaya, Jawa Timur. Hanya dengan modal awal Rp 100 ribu dari uang pensiun sang suami, kini omzet usahanya mencapai Rp 50 juta per bulan dengan kapasitas produksi 3.000 item per bulan.
Menurut Nanik, semua jenis daun bisa dipakai untuk kerajinan ini, sementara proses produksinya juga tidak terlalu rumit. Terlebih dulu daun dimasak agar warna dan seratnya muncul, kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan setrika. Setelah kering, dedaunan dilem pada permukaan benda yang akan dibuat. Setelah itu dipernis untuk melindungi warna asli daun.
Kini, wanita yang tinggal di kawasan Ngagel, Surabaya ini memiliki 40 karyawan. Sepeninggal suaminya pada 2005 silam, usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Merekalah yang kini membantu memperluas pemasaran. Alhasil, selain pasar dalam negeri, pasar mancanegara seperti Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris telah dikuasainya.(ADO)
Menurut Nanik, semua jenis daun bisa dipakai untuk kerajinan ini, sementara proses produksinya juga tidak terlalu rumit. Terlebih dulu daun dimasak agar warna dan seratnya muncul, kemudian dibilas dengan air bersih dan dikeringkan dengan setrika. Setelah kering, dedaunan dilem pada permukaan benda yang akan dibuat. Setelah itu dipernis untuk melindungi warna asli daun.
Kini, wanita yang tinggal di kawasan Ngagel, Surabaya ini memiliki 40 karyawan. Sepeninggal suaminya pada 2005 silam, usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Merekalah yang kini membantu memperluas pemasaran. Alhasil, selain pasar dalam negeri, pasar mancanegara seperti Prancis, Jerman, Belanda, dan Inggris telah dikuasainya.(ADO)
Langganan:
Postingan (Atom)

